Obsesi Sang Penulis yang Berujung Maut

Berkisah tentang seorang penulis, Ellison Oswald, yang terobsesi dengan kasus pembunuhan sebuah keluarga. Ellison pun memboyong keluarganya ke rumah bekas pembunuhan tersebut agar bisa menginvestigasi kasus ini untuk bahan tulisannya. Ketika semua hampir terkuak, Ellison harus menghadapi takdir yang meletakkan keluarganya di ujung maut.

Entah apa yang dipikirkan Scott Derrickson saat menggarap Sinister. Hanya syuting di sekitar rumah, film ini berhasil menghipnosis jutaan penonton dengan total pendapatan kotor $46 juta. Sementara budget yang dikeluarkan oleh Blum House selaku rumah produksi hanya $3 juta. Diisi nama-nama seperti Ethan Hawke, Juliet Rylance, dan Fred Dalton Thompson, film ini menghantarkan tren baru bagi pecinta horor.

Awal rol diputar, Scott langsung menyuguhkan adegan satu keluarga yang dibunuh dengan menggantung leher mereka di atas pohon, tak diketahui siapa pelaku pembunuhan dan apa motif dibaliknya. Sementara, seorang anak dari keluarga malang ini tak terlacak keberadaannya. Dari sini Ellison Oswald yang diperankan oleh Ethan Hawke mulai melakukan investigasi tentang apa yang terjadi pada keluarga tersebut, diawali dengan pindah ke rumah korban.

Sementara Ellison disibukkan dengan penemuan beberapa rol film di loteng rumah baru tersebut, Scott memaksa penonton melihat potongan-potongan video ala Paranormal Activity, namun video yang ditunjukkan Scott bercerita tentang pembunuhan-pembunuhan keji termasuk pembunuhan keluarga yang rumahnya ditinggali Ellison. Sekali lagi tak ada alasan pasti kenapa pembunuh mereka merekam aksi kejinya. Anehnya, setiap keluarga yang dibunuh, menyisakan satu anak yang tak pernah diketahui keberadaannya.

Ellison yang makin terobsesi dengan penemuan-penemuannya tak menyadari maut yang mengintai keluarganya. Anak lelakinya yang tiba-tiba sering mengalami sleeping terror dan putrinya yang mengaku bertemu dengan Stephanie, anak hilang dari keluarga korban.

Investigasi lebih dalam yang dilakukan Ellison menemukan fakta bahwa dalam tiap video terdapat sesosok manusia bertopeng mengenakan jubah hitam dan sebuah simbol yang menandakan suatu kepercayaan disebut Bughuul, sebuah kepercayaan bangsa Babylonia tentang pengambilan jiwa anak-anak untuk pemujaan.

Dibantu oleh seorang polisi yang mengagumi buku Ellison sebelumnya, Kentucky Blood, Ellison menyadari sebuah pola di mana keluarga Stephanie sebelumnya pindah dari rumah keluarga lain yang juga menjadi korban pembunuhan. Saat ini Scott sudah memberikan kode kepada penonton, giliran selanjutnya adalah Keluarga Oswald ketika mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah keluarga Stephanie.

Ellison yang terlanjur shock dengan video-video yang ditontonnya memutuskan membakar semua rol film beserta pemutar film dan menghentikan penulisan buku tentang pembunuhan keluarga Stephanie. Ellison yang panik langsung memboyong keluarganya pindah ke rumah mereka yang lama, berharap mimpi buruk tentang pembunuhan berantai itu hilang dari kehidupannya.

Saat masa pindah, Ellison malah menemukan kotak berisi video dan alat pemutar film di loteng rumahnya. Kotak tersebut berisi extended version dari video yang pernah dilihat Ellison di rumah keluarga Stephanie.

Menit-menit akhir rol film berputar, Scott mulai menunjukkan fakta yang membuat penonton akan tercengang. Seperti kebanyakan film barat yang tak menuntaskan kejahatan di akhir cerita, Sinister berakhir dengan kematian Ellison dan keluarga di mana pembunuhan ini tak lain dilakukan oleh Ashley (Clare Foley), anak bungsu Ellison. Sama halnya dengan tiap anak yang dinyatakan hilang, mereka yang melakukan pembunuhan keji lewat pengaruh dari Bughuul seperti ditampilkan dalam extended version yang ditemukan Ellison.

Tegang. Hal inilah yang diharapkan Scott dialami oleh penonton sepanjang film berdurasi 105 menit ini diputar. Film ini pun layak jadi tantangan bagi yang mengaku pecinta film horor. Alur cerita yang misterius membuat film ini layak disejajarkan dengan keseraman film genre thriller lain seperti Insidious (2011) maupun Silent Hill II (2012). Sayangnya, tak seberuntung Insidious dan Silent Hill II, Sinister minim promosi terbukti dari budget yang terbilang kecil.

Namun, tak perlu ragu untuk menjadikan film ini pilihan karena jalan ceritanya yang akan membuat kita deg-degan sepanjang pemutarannya. Menunjukkan pada kita tentang investigasi ala polisi yang dilakukan hanya untuk menghasilkan sebuah tulisan. Betapa Ellison tak menyerah atas fakta-fakta yang ada. Walaupun Ellison tak mampu merampungkan bukunya, tapi rasa keingintahuan dan investigasi ala Ellison perlu ditiru bagi kita yang mengaku suka menulis cerita fakta ala In Cold Blood karya Truman Capote yang beberapa kali disebut Ellison sebagai landasan baginya menelusuri pembunuhan keluarga Stephanie.

Tulisan ini telah dipublikasikan di Kompasiana Malinda Sembiring

WhatsApp chat